BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana
bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal
ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan
dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera
setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila
penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan
pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi
gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak
dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir, (YBp–sp, Hal :
709,2002)
Asfiksia
neonatorum adalah hipoksia yang prograsif, penimbunan CO2 dan
asidosis. Bila proses ini
berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak/ kematian pada bayi
fungsi. (JNPKKR-pogi,
Hal: 347,2001). Insiden
asfiksia perinatal di negara maju berkisar antara 1,0 – 1,5% tergantung dari
masa gestasi dan berat lahir. Insiden asfiksia pada bayi matur berkisar 0,5%
sedang bayi prematur 0,6%. Di Indonesia
prevelen asfiksia berkisar 0,3% kelahiran (1998), atau setiap tahunnya
sekitar 144.900 bayi dilahirkan dengan asfiksia berat (Abd. Sukadi dkk). Dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa bayi asfiksia berat memiliki dampak yang buruk dan total
dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi cerebral palsi, retardasi mental IQ
rendah dan lain-lain. Walaupun angka prevelensinya rendah sekitar 1,4% dari
jumlah kelahiran normal tetapi merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas
bagi bayi baru lahir.
B. Tujuan
1.
Tujuan umum
Agar penulis
mendapat pengalaman nyata dari teori yang selama ini diperoleh sehingga mampu
mengembangkan dan menerapkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan
kebidanan pada Bayi dengan asfiksia berat melalui pendekatan kebidanan Hellen
Varney.
2. Tujuan khusus
Penulis
diharapkan dapat :
a. Melakuakan
pengkajian data.
b.
Mengidentifikasi diagnosa, masalah dan
kebutuhan.
c.
Mengantisipasi masalah potensial.
d.
Mengidentifikasi kebutuhan segera.
e.
Merencanakan suatu tindakan yang
komperhensif
f.
Melaksanakan tindakan sesuai dengan
rencana.
g.
Mengevaluasi pelaksanaan asuhan
kebidanan.
C. Manfaat
penyusunan Asuhan kebidanan
1 . Bagi penulis
Membantu
meningkatkan wawasan dalam menerapan ilmu yang telah di berikan dalam
perkuliahan
&
mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
2 .
Bagi instansi
Memberikan
tambahan sumber kepustakaan & pengetahuan serta bahan asuhan dalam
penyusunan asuhan kebidanan pada masa akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana
bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal
ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan
dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera
setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila
penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan
pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi
gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana keadaan
bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur
setelah dilahirkan. (Mochtar, Rustam. 1998).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat
bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin
meningkatkan CO2 yang
menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan selanjutnya. (Manuaba. 1998)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi
tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur
setelah lahir. (Prawiraharjo, Sarwono, 2002).
B.
ETIOLOGI
Hipoksia janin yg menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi
karena gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu kejanin
sehinga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dalam menghilangkan CO2
gangguan ini dapat berlangsung
secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan atau
secara mendadak karena hal- hal yg di derita ibu dalam persalinan.
(Prawiraharjo, Sarwono. 2002).
C. ASFIKSIA DALAM KEHAMILAN
Disebabkan oleh penyakit infeksi akut atau kronis,
keracunan obat bius, urimea dan taksemia gravidarum, anemia berat, cacat
bawaan/trauma.
Asfiksia
graviditas tidak begitu penting seperti asfiksia yang terjadi sewaktu
persalinan, karena tidak dapat dilakukan tindakan untuk menolong janin.
(Mochtar, Rustam. 1998)
D. ASFIKSIA DALAM
PERSALINAN
Disebabkan oleh:
1. Kekurangan oksigen, misalnya pada
a.
Partus lama (CPD, serviks kaku &
atonia/inseria uteri)
b. Rupture uteri yang memakai kontraksi
uterus.yang terus menerus mengganggu sirkulasi darah ke placenta
c.
Tekanan terlalu kuat dari kepala anak
pada placenta
d.
Prolapsus : tali pusat akan tertekan
antara kepala & panggul.
e.
Pemberian obat bius terlalu banyak dan
tidak tepat pada waktunya.
f.
Perdarahan banyak, misalnya placenta
previa dan solusio plasenta.
g.
Kalau plasenta sudah tua dapat terjadi
postmaturitas (serotinus), disfungsi uri.
2.
Paralisis pusat pernafasan, akibat
trauma dari luar seperti karena tindakan forseps, atau trauma dari dalam
seperti akibat obat bius. (Mochtar, Rustam. 1998)
E.
PATOGENESIS
1.
Bila
janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah
timbulah rangsangan terhadap N. vagus sehinga bunyi jantung janin menjadi
lamban. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung, N vagus tidak
dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari N. simpatikus. DJJ
menjadi lebih cepat akhirnya irregular dan menghilang. Secara klinis tanda –
tanda asfiksia adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160 x/menit
atau kurang dari 100 x/menit halus dan irreguler, serta adanya pengeluaran
mekoneum.
2.
Kekurangan O2 juga merangsang usus, sehingga mekonium keluar
sebagai tanda janin dalam asfiksia.
Jika DJJ normal
dan ada mekonium; janin mulai asfiksia
Jika DJJ lebih
dari 160 kali per menit dan ada mekonium janin sedang asfiksia.
Jika DJJ kurang
dari 100 kali per menit dan ada mekonium; janin dalam keadan gawat.
3.
Janin akan mengadakan pernafasan
intrauterin, dan bila kita periksa kemudian, terdapat banyak air ketuban dan
mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis, bila janin
lahir alveoli tidak berkembang.
F. DIAGNOSIS
1. in utero
a.DJJ inregular dan
frekuensinya lebih dari 160 atau kurang dari 100 kali permenit
b.
Terdapat mekonium dalam air ketuban
(letak kepala)
c.Analisa air
ketuban / amnioskopi
d.
Kardiotokografi
e.Ultrasonografi
2. Setelah bayi lahir
a.
Bayi tampak pucat dan kebiru – biruan
serta tidak bernafas
b.
Kalau sudah mengalami perdarahan di
otak maka ada gejala neurologik seperti kejang, nistagmus, dan menangis kurang
baik/ tidak menagis.
G. Gejala Klinis
|
TAMPILAN
|
0
|
1
|
2
|
NILAI
|
|
A |
Appearance |
||||
|
Warna
kulit
|
Pucat
|
Badan
merah ekstremitas kebiruan
|
Seluruh
tubuh kemerahan
|
||
P |
Pulse
|
||||
|
Denyut
jantung
|
Tidak
ada
|
<
100
|
>
100
|
||
G |
Grimace
|
||||
|
Reaksi
terhadap rangsangan
|
Tidak
ada
|
Menyeringai
|
Bersin
/ batuk
|
||
A |
Activity
|
||||
|
Kontraksi
otot
|
Tidak
ada
|
Ekstremitas
sedikit fleksi
|
Gerakan
aktif
|
||
R |
Respiration
|
||||
|
Pernafasan
|
Tidak
ada
|
Lemah
/ tidak teratur
|
Menangis
kuat
|
||
|
Jumlah
|
Nilai
APGAR
|
||||
|
Kerangan
:
0
– 3 :
Asfiksia berat
4
– 6 :
Asfiksia sedang
7
– 10 : Asfiksia ringan / Normal
|
|||||
Nilai APGAR
Nilai apgar bukan hanya dipakai untuk menentukan
kapan kita memulai tindakan tetapi lebih banyak kaitannya dalam memantau
kondisi bayi dari waktu ke waktu. Apabila ternyata terjadi penyulit atau gangguan kondisi vital pada bayi baru
lahir, maka nilai tampilan dari tiap-tiap menit kehidupan bayi, dapat dijadikan
tolak ukur perkembangan kondisi vital bayi, dapat dijadikan tolak ukur perkembangan kondisi vital bayi
baru lahir sebagai berikut :
1.
Bagaimana
kondisi bayi sesaat setelah lahir, menit
pertama, menit kelima dan pada menit-menit selanjutnya?
2.
Apakah
kondisi bayi lebih baik pada lima menit pertama atau malah memburuk, jika
dibandingkan dengan menit pertama lahirnya.
H. Penatalaksanaan
Apgar
score menit 1 : 0 – 3
1. Memperbaiki
Ventilasi paru-paru dengan
memberikan Oksigen secara langsung dan berulang-ulang.
2.
Melakukan
intubasi Endotrakcal dan setelah kateter dimasukkan ke dalam trakua, O2
diberikan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml air.
3.
Massage
jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur
80 – 100 x/menit.
Apgar
score menit 1 : 4 – 6
1.
Melakukan
stimulasi untuk menimbulkan reflek pernafasan.
2.
Ventilasi
dapat dikerjakan dengan cara ventilasi mulut ke mulut atau Ventilasi kantong ke
masker.
I. Prinsip Dasar Resusitasi
Gambaran umum dan prinsip-prinsip resusitasi telah
dijelaskan mulai dari pendahuluan hingga perlengkapan yang diperlukan untuk
resusitasi.
a.
Langkah Awal Resusitasi
Pelajaran
Langkah awal meliputi :
1)
Penentuan apakah neonatus memerlukan resusitasi.
2)
Membuka
jalan nafas dan mencegah hipotemi.
3)
Bagimana
jika ketuban mengandung mekonium.
4)
Memberikan oksigen aliran bebas.
5) Dalam beberapa detik setelah bayi 5 pertanyaan harus
segera dijawab/ ditentukan.
6) Apakah cairan amnion dari mekonium?
7)
Apakah bayi bernafas/ menangis?
8)
Apakah tonus otot baik?
9)
Apakah warna kulit kemerahan?
10)
Apakah bayi lahir cukup bulan?
Bila semua jawaban
YA, bayi tidak perlu resusitasi. Mungkin hanya penghangatan dan pembersihan
jalan nafas (mulut dan hidung) dari sisa-sia sekret/ air ketuban.
Bila salah
satu dari pertanyaan diatas ada yang dijawab TIDAK, bayi memerlukan resusitasi! Dimulai
dengan Langkah Awal Resusitasi yaitu :
a) Berikan
kehangatan.
b)
Posisikan
bayi sedikit ekstensi/ tengadah.
c)
Bersihkan jalan nafas.
d)
mengeringkan
tubuh dari air ketuban.
e)
reposisi sedikit ekstensi/ tengadah.
f)
rangsang taktil.
g)
pemberian oksigen aliran bebas.
Memberikan
kehangatan :
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas. Biarkan bayi
telanjang agar panas dari alat pemancar panas dapat mencapai bayi dan untuk
mendapat pandangan penuh pada bayi.
Meletakkan bayi dengan sedikit menengadah kepalanya :
Bayi diletakkan terlentang atau miring dengan kepala
sedikit tengadah (extansi). Dengan demikian posisi farings, larings dan trakea
dalam satu garis lurus. Pada posisi ini jalan nafas terbuka dan mudah dilakukan
ventilasi dengan balon-sungkup.
Intubasi endotrakeal juga dilakukan pada posisi telentang
dan sedikit tengadah. Untuk mempertahankan posisi sedikit tengadah ini,
letakkan gulungan kain/ handuk dibawah bahu.
Bersihkan jalan nafas
Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekonium :
Bila terdapat mekonium dalam ketuban, petugas yang
menolong persalinann harus menghisap cairan dari mulut, farings dan hidung bayi
sebelum bahu dilahirkan, agar bayi tidak mengalami aspirasi mekonium jika bayi
menangis/ bernafas sesaat setelah lahir. Kemudian bayi dilahirkan dan harus
segera dinilai “bugar” atau “tidak
bugar” (tidak bugar : apneu/ gasping, tonus otot jelek, frekuensi
jantung < 100/menit).
Jika bayi tidak bugar harus dilakukan pernghisapan
mekonium dari trakea (dengan cara laringoskopi dan intubasi trakea, kemudian
cabut pipa endotrakeal sambil melakukan penghisapan). Prinsipnya kita harus
membersihkan jalan nafas dulu sebelum memberikan nafas buatan.
Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekonium
:
Bila tida ada mekonium, lahirkan bayi kemudian hisap
lendir dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan
melalui hidung kiri-kanan. Jangan menghisap terlalu dalam, terlalu lama atau
terlalu kuat (gunakan kekuatan penghisapan – 100 mmHg). Penghisapan terlalu
dalam/ lama mengakibatkan bradikardi.
Mulut dihisap terlebih dahulu sebelum hidung, karena
penghisapan hidung merangsang bayi bernafas dan akan terjadi aspirasi jika
farings belum bersih.
Mengeringkan :
Pengeringan membantu mengurangi kehilangan suhu tubuh dan
juga merupakan rangsangan agar bayi bernafas/ menangis.
Jika ada 2 penolong bisa dilakukan bersama tindakan
pembersihan/ pembebasan jalan nafas (posisi sedikit tengadah, penghisapan
sekret). Handuk yang digunakan untuk mengeringkan harus diganti dengan yang
baru/ masih kering dan hangat sebagai selimut.
Rangsang taktil :
Setelah bayi dibebaskan/ dibersihkan jalan nafasnya dan
dikeringkan tetap apnea/ tidak menangis, berikan rangsang taktil agar bernafas/
menangis.
Cara
rangsang yang aman :
1.
Menepuk
atau menyentil telapak kaki.
2.
Menggosok
punggung, perut, atau ekstremitas bayi.
Rangsangan berbahaya |
Akibat yang bisa terjadi |
|
Menepuk punggung
Menekankan rongga dada
Menekankan dada ke perut
Mendilatasi sfingter ani
Kompres dingin, panas
Mengguncang-guncang
tubuh
|
Perlukaan
Patah tulang, pneumothorax, distres nafas
Pecahnya hati, limpa
Sfingter ani robek
Hipo/
hipertemi
Kerusakan
otak
|
Pemberian
oksigen aliran bebas :
Jika
bayi bernafas tapi penilaian warna kulit menunjukkan adanya sianosis sentral
(mukosa bibir, lidah kebiruan), berikanlah oksigen aliran bebas 100% sampai
sianosis sentral hilang.
Setelah menghangatkan, memposisikan, membersihkan jalan
nafas, mengeringkan, memberikan oksigen bila perlu, kita melakukan penilaian
untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
Penilaian bayi baru lahir ini meliputi :
1.
Pernafasan :
Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya
pernafasan. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu
tindakan seperti apneu.
Jika pernafasan telah efektif/ menangis, kita melangkah
ke penilaian selanjutnya.
2.
Frekuensi jantung :
Frekuensi denyut jantung harus > 100/menit. Cara yang
termudah dan cepat adalah meraba pulsasi pada pangkal tali pusat. Cara lain
dengan stetoskop mendengarkan denyut jantung. Kerugian cara ini, kita harus
menghentikan ventilasi.
Kita menghitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 =
frekuensi denyut jantung selama 1 menit). Cara ini tujuannya untuk tidak
membuang waktu. Jika FJ (frekuensi jantung) < 100/menit, lakukan VTP
(ventilasi tekanan positif) meskipun nafas sudah spontan. Jika
FJ > 100/menit kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
3.
Warna kulit :
Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya
kulit menjadi kemerahan. Jika masih ada sianosis sentral, berikan oksigen
aliran bebas 100% hingga sianosisnya hilang. Jika tidak juga hilang (sianosis
sentral yang menetap), coba lakukan VTP + oksigen 100% hingga sianosis sentral
hilang.
DAFTAR
PUSTAKA
- Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC
- Arief, Mansjoer, Wahyu Wardani, Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Jakarta : 2006
- Dr. Soewarsih, Spa, Mata. Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. 2006
- Prawirohardjo, Sarwono 2002, Ilmu Kedokteran, Jakarta
- Mochtar, Rustam, Sinopsis Obstetri, Jakarta : EGC, 1998
- Potter Patricia A. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Jakarta : EGC. 2005
- Surasmi, Asrining. Perawatan Bayi Resiko Tinggi, Jakarta : EGC. 2003
- Depkes, RI, Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Perawat, Bidan Di Rumah Sakit Rujukan Dasar, Jakarta. 2005.....................................