Sabtu, 31 Mei 2014

Asfiksia



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).
          Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir, (YBp–sp, Hal : 709,2002)
           Asfiksia neonatorum adalah hipoksia yang prograsif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak/ kematian pada bayi fungsi. (JNPKKR-pogi, Hal: 347,2001). Insiden asfiksia perinatal di negara maju berkisar antara 1,0 – 1,5% tergantung dari masa gestasi dan berat lahir. Insiden asfiksia pada bayi matur berkisar 0,5% sedang bayi prematur 0,6%. Di Indonesia  prevelen asfiksia berkisar 0,3% kelahiran (1998), atau setiap tahunnya sekitar 144.900 bayi dilahirkan dengan asfiksia berat (Abd. Sukadi dkk).                                                Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bayi asfiksia berat memiliki dampak yang buruk dan total dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi cerebral palsi, retardasi mental IQ rendah dan lain-lain. Walaupun angka prevelensinya rendah sekitar 1,4% dari jumlah kelahiran normal tetapi merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas bagi bayi baru lahir.



B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Agar penulis mendapat pengalaman nyata dari teori yang selama ini diperoleh sehingga mampu mengembangkan dan menerapkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan pada Bayi dengan asfiksia berat melalui pendekatan kebidanan Hellen Varney.
2.      Tujuan khusus
Penulis diharapkan dapat :
a.       Melakuakan pengkajian data.
b.      Mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan.
c.       Mengantisipasi masalah potensial.
d.      Mengidentifikasi kebutuhan segera.
e.       Merencanakan suatu tindakan yang komperhensif
f.       Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana.
g.      Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan.

C.    Manfaat penyusunan Asuhan  kebidanan
1           .      Bagi penulis
Membantu meningkatkan wawasan dalam menerapan ilmu yang telah di berikan dalam perkuliahan & mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
2           .      Bagi instansi
Memberikan tambahan sumber kepustakaan & pengetahuan serta bahan asuhan dalam penyusunan asuhan kebidanan pada masa akan datang.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    PENGERTIAN
       Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana keadaan bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, Rustam. 1998).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2  yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan selanjutnya. (Manuaba. 1998)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana  bayi  tidak dapat  segera         bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. (Prawiraharjo, Sarwono, 2002).

B.     ETIOLOGI
Hipoksia janin yg menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu kejanin sehinga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dalam menghilangkan CO2  gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan atau secara mendadak karena hal- hal yg di derita ibu dalam persalinan. (Prawiraharjo, Sarwono. 2002).

C. ASFIKSIA DALAM KEHAMILAN
Disebabkan oleh penyakit infeksi akut atau kronis, keracunan obat bius, urimea dan taksemia gravidarum, anemia berat, cacat bawaan/trauma.
Asfiksia  graviditas tidak begitu penting seperti asfiksia yang terjadi sewaktu persalinan, karena tidak dapat dilakukan tindakan untuk menolong janin. (Mochtar, Rustam. 1998)

        D. ASFIKSIA DALAM PERSALINAN
     Disebabkan oleh:
1.      Kekurangan  oksigen, misalnya pada
a.       Partus lama (CPD, serviks kaku & atonia/inseria uteri)
b.   Rupture uteri yang memakai kontraksi uterus.yang terus menerus mengganggu sirkulasi darah ke placenta
c.       Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada placenta
d.      Prolapsus : tali pusat akan tertekan antara kepala & panggul.
e.       Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
f.       Perdarahan banyak, misalnya placenta previa dan solusio plasenta.
g.      Kalau plasenta sudah tua dapat terjadi postmaturitas (serotinus), disfungsi uri.
2.      Paralisis pusat pernafasan, akibat trauma dari luar seperti karena tindakan forseps, atau trauma dari dalam seperti akibat obat bius. (Mochtar, Rustam. 1998)    

        E.  PATOGENESIS
1.      Bila  janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah timbulah rangsangan terhadap N. vagus sehinga bunyi jantung janin menjadi lamban. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung, N vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari N. simpatikus. DJJ menjadi lebih cepat akhirnya irregular dan menghilang. Secara klinis tanda – tanda asfiksia adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160 x/menit atau kurang dari 100 x/menit halus dan irreguler, serta adanya pengeluaran mekoneum.
2.      Kekurangan O2  juga merangsang usus, sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin dalam asfiksia.
Jika DJJ normal dan ada mekonium; janin mulai asfiksia
Jika DJJ lebih dari 160 kali per menit dan ada mekonium janin sedang asfiksia.
Jika DJJ kurang dari 100 kali per menit dan ada mekonium; janin dalam keadan gawat.
3.      Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin, dan bila kita periksa kemudian, terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis, bila janin lahir alveoli tidak berkembang.               

F.  DIAGNOSIS
             1.      in utero
a.DJJ inregular dan frekuensinya lebih dari 160 atau kurang dari 100 kali permenit
b.      Terdapat mekonium dalam air ketuban (letak kepala)
c.Analisa air ketuban / amnioskopi
d.      Kardiotokografi
e.Ultrasonografi
2.  Setelah bayi lahir
a.       Bayi tampak pucat dan kebiru – biruan serta tidak bernafas
b.      Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik seperti kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menagis.
G. Gejala Klinis
TAMPILAN
0
1
2
NILAI

A

Appearance


Warna kulit
Pucat
Badan merah ekstremitas kebiruan
Seluruh tubuh kemerahan

P

Pulse

Denyut jantung
Tidak ada
< 100
> 100

G

Grimace

Reaksi terhadap rangsangan
Tidak ada
Menyeringai
Bersin / batuk

A

Activity

Kontraksi otot
Tidak ada
Ekstremitas sedikit fleksi
Gerakan aktif

R

Respiration

Pernafasan
Tidak ada
Lemah / tidak teratur
Menangis kuat

Jumlah
Nilai
APGAR
Kerangan :
0 – 3   :  Asfiksia berat
4 – 6   :  Asfiksia sedang
7 – 10 :  Asfiksia ringan / Normal  


Nilai  APGAR
Nilai apgar bukan hanya dipakai untuk menentukan kapan kita memulai tindakan tetapi lebih banyak kaitannya dalam memantau kondisi bayi dari waktu ke waktu. Apabila ternyata terjadi penyulit  atau gangguan kondisi vital pada bayi baru lahir, maka nilai tampilan dari tiap-tiap menit kehidupan bayi, dapat dijadikan tolak ukur perkembangan kondisi vital bayi, dapat dijadikan  tolak ukur perkembangan kondisi vital bayi baru lahir sebagai berikut :
1.      Bagaimana kondisi bayi sesaat  setelah lahir, menit pertama, menit kelima dan pada menit-menit selanjutnya?
2.      Apakah kondisi bayi lebih baik pada lima menit pertama atau malah memburuk, jika dibandingkan dengan menit pertama lahirnya.

H.   Penatalaksanaan
Apgar score menit 1 : 0 – 3
1.      Memperbaiki  Ventilasi  paru-paru  dengan  memberikan  Oksigen  secara langsung dan berulang-ulang.
2.      Melakukan intubasi Endotrakcal dan setelah kateter dimasukkan ke dalam trakua, O2 diberikan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml air.
3.      Massage jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80 – 100 x/menit.
Apgar score menit 1 : 4 – 6
1.      Melakukan stimulasi untuk menimbulkan reflek pernafasan.
2.      Ventilasi dapat dikerjakan dengan cara ventilasi mulut ke mulut atau Ventilasi kantong ke masker.
     I.   Prinsip Dasar Resusitasi
Gambaran umum dan prinsip-prinsip resusitasi telah dijelaskan mulai dari pendahuluan hingga perlengkapan yang diperlukan untuk resusitasi.
a.       Langkah Awal Resusitasi
Pelajaran Langkah awal meliputi :
1)      Penentuan apakah neonatus memerlukan resusitasi.
2)      Membuka jalan nafas dan mencegah hipotemi.
3)      Bagimana jika ketuban mengandung mekonium.
4)      Memberikan oksigen aliran bebas.
5)      Dalam beberapa detik setelah bayi 5 pertanyaan harus segera dijawab/ ditentukan.


6)      Apakah cairan amnion dari mekonium?
7)      Apakah bayi bernafas/ menangis?
8)      Apakah tonus otot baik?
9)      Apakah warna kulit kemerahan?
10)  Apakah bayi lahir cukup bulan?
Bila semua jawaban YA, bayi tidak perlu resusitasi. Mungkin hanya penghangatan dan pembersihan jalan nafas (mulut dan hidung) dari sisa-sia sekret/ air ketuban.
Bila salah satu dari pertanyaan diatas ada yang dijawab TIDAK,                  bayi   memerlukan resusitasi! Dimulai dengan Langkah Awal Resusitasi yaitu :
a)      Berikan kehangatan.
b)      Posisikan bayi sedikit ekstensi/ tengadah.
c)      Bersihkan jalan nafas.
d)     mengeringkan tubuh dari air ketuban.
e)      reposisi sedikit ekstensi/ tengadah.
f)       rangsang taktil.
g)      pemberian oksigen aliran bebas.
Memberikan kehangatan :
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas. Biarkan bayi telanjang agar panas dari alat pemancar panas dapat mencapai bayi dan untuk mendapat pandangan penuh pada bayi.
Meletakkan bayi dengan sedikit menengadah kepalanya :
Bayi diletakkan terlentang atau miring dengan kepala sedikit tengadah (extansi). Dengan demikian posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus. Pada posisi ini jalan nafas terbuka dan mudah dilakukan ventilasi dengan balon-sungkup.
Intubasi endotrakeal juga dilakukan pada posisi telentang dan sedikit tengadah. Untuk mempertahankan posisi sedikit tengadah ini, letakkan gulungan kain/ handuk dibawah bahu.

Bersihkan jalan nafas

Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekonium :
Bila terdapat mekonium dalam ketuban, petugas yang menolong persalinann harus menghisap cairan dari mulut, farings dan hidung bayi sebelum bahu dilahirkan, agar bayi tidak mengalami aspirasi mekonium jika bayi menangis/ bernafas sesaat setelah lahir. Kemudian bayi dilahirkan dan harus segera dinilai “bugar” atau   “tidak bugar” (tidak bugar : apneu/ gasping, tonus otot jelek, frekuensi jantung         < 100/menit).
Jika bayi tidak bugar harus dilakukan pernghisapan mekonium dari trakea (dengan cara laringoskopi dan intubasi trakea, kemudian cabut pipa endotrakeal sambil melakukan penghisapan). Prinsipnya kita harus membersihkan jalan nafas dulu sebelum memberikan nafas buatan.
Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekonium :
Bila tida ada mekonium, lahirkan bayi kemudian hisap lendir dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan melalui hidung kiri-kanan. Jangan menghisap terlalu dalam, terlalu lama atau terlalu kuat (gunakan kekuatan penghisapan – 100 mmHg). Penghisapan terlalu dalam/ lama mengakibatkan bradikardi.
Mulut dihisap terlebih dahulu sebelum hidung, karena penghisapan hidung merangsang bayi bernafas dan akan terjadi aspirasi jika farings belum bersih.
Mengeringkan :
Pengeringan membantu mengurangi kehilangan suhu tubuh dan juga merupakan rangsangan agar bayi bernafas/ menangis.
Jika ada 2 penolong bisa dilakukan bersama tindakan pembersihan/ pembebasan jalan nafas (posisi sedikit tengadah, penghisapan sekret). Handuk yang digunakan untuk mengeringkan harus diganti dengan yang baru/ masih kering dan hangat sebagai selimut.
Rangsang taktil :
Setelah bayi dibebaskan/ dibersihkan jalan nafasnya dan dikeringkan tetap apnea/ tidak menangis, berikan rangsang taktil agar bernafas/ menangis.
Cara rangsang yang aman :
1.      Menepuk atau menyentil telapak kaki.
2.      Menggosok punggung, perut, atau ekstremitas bayi.

Rangsangan berbahaya

Akibat yang bisa terjadi

Menepuk punggung
Menekankan rongga dada
Menekankan dada ke perut
Mendilatasi sfingter ani
Kompres dingin, panas
Mengguncang-guncang tubuh
Perlukaan
Patah tulang, pneumothorax, distres nafas
Pecahnya hati, limpa
Sfingter ani robek
Hipo/ hipertemi
Kerusakan otak

Pemberian oksigen aliran bebas :
Jika bayi bernafas tapi penilaian warna kulit menunjukkan adanya sianosis sentral (mukosa bibir, lidah kebiruan), berikanlah oksigen aliran bebas 100% sampai sianosis sentral hilang.
Setelah menghangatkan, memposisikan, membersihkan jalan nafas, mengeringkan, memberikan oksigen bila perlu, kita melakukan penilaian untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
Penilaian bayi baru lahir ini meliputi :
1.      Pernafasan :
Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya pernafasan. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu tindakan seperti apneu.
Jika pernafasan telah efektif/ menangis, kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
2.      Frekuensi jantung :
Frekuensi denyut jantung harus > 100/menit. Cara yang termudah dan cepat adalah meraba pulsasi pada pangkal tali pusat. Cara lain dengan stetoskop mendengarkan denyut jantung. Kerugian cara ini, kita harus menghentikan ventilasi.
Kita menghitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 = frekuensi denyut jantung selama 1 menit). Cara ini tujuannya untuk tidak membuang waktu. Jika FJ (frekuensi jantung) < 100/menit, lakukan VTP (ventilasi tekanan positif) meskipun nafas sudah spontan. Jika FJ > 100/menit kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
3.      Warna kulit :
Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit menjadi kemerahan. Jika masih ada sianosis sentral, berikan oksigen aliran bebas 100% hingga sianosisnya hilang. Jika tidak juga hilang (sianosis sentral yang menetap), coba lakukan VTP + oksigen 100% hingga sianosis sentral hilang.



DAFTAR PUSTAKA
  • Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC
  • Arief, Mansjoer, Wahyu Wardani, Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Jakarta : 2006
  • Dr. Soewarsih, Spa, Mata. Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. 2006
  • Prawirohardjo, Sarwono 2002, Ilmu Kedokteran, Jakarta
  • Mochtar, Rustam, Sinopsis Obstetri, Jakarta : EGC, 1998
  • Potter Patricia A. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Jakarta : EGC. 2005
  • Surasmi, Asrining. Perawatan Bayi Resiko Tinggi, Jakarta : EGC. 2003
  • Depkes, RI, Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Perawat, Bidan Di Rumah Sakit Rujukan Dasar, Jakarta. 2005.....................................